08117119676
lppm@ubb.ac.id
Balunijuk, Merawang, Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 33172

berita-img
07/08/2025

MONEV LPPM: PANEN BAWANG MERAH di AIR MESU TIMUR DARI PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK

Administrator | MBKM

Upaya peningkatan produksi bawang merah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Prov. Babel) terus dilakukan.  Kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat terus diupayakan di Desa Air Mesu Timur yang merupakan sentra budidaya bawang merah di Kabupaten Bangka Tengah. Mahasiswa UBB melalui Kuliah Luar Kampus (KLK) Kampus Berdampak tahun 2025 kembali merintis penelitian berkaitan dengan peningkatan produksi tanaman bawang merah.  Tanah Babel yang tergolong jenis ultisol dengan sifat masam menjadi tantangan dalam budidaya tanaman bawang merah.

Pemantauan LPPM dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) bawang merah ini telah dibudidayakan di pulau Bangka sejak tahun 2017. Akademisi dari Universitas Bangka Belitung (UBB) yaitu Dr. Kartika SP, M.Si dan Winda Wahyuni, SP, M.Si, telah 2 tahun berturut-turut melakukan penelitian bawang merah di Air Mesu Timur.  Mereka juga mendapatkan Dana Hibah Pegabdian Kepada Masyarakat dari DIKTI untuk peningkatan produksi tanaman bawang merah di desa tersebut. 

Sekertaris Desa Air Mesu Timur Bapak Yunus mengungkapkan bahwa bawang merah adalah produk unggulan desa, saat ini produksinya harus terus ditingkatkan.  Ketua kelompok tani timur makmur Bapak Erwansyah mengungkapkan bahwa budidaya bawang merah saat ini mendapatkan tantangan dengan sifat tanah masam, curah hujan yang tidak menentu, dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama molar.  Menurut Beliau, selama empat tahun terakhir ini telah dilakukan berbagai upaya untuk membudidayakan tanaman bawang merah sekaligus meningkatkan produksi mulai dari pemilihan varietas, pemilihan pupuk, penetapan dosis, dan pengapuran.  Bersama Beliau hadir juga petani bawang merah Bapak Ashar. Beliau mengungkapkan varietas bawang merah yang potensial dikembangkan adalah Bima Brebes. Rasa Umbi varietas ini disukai sehingga harganya lebih mahal. Harga bawang merah dari petani Rp. 35.000- Rp. 45.000, sementara harga eceran bisa mencapai Rp. 60.000,-.  Dalam 1 tahun petani bisa panen bawang merah 3 kali, sehingga pendapatan petani lebih stabil dibandingkan budidaya tanaman perkebunan yang umurnya lebih panjang.

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh petani, maka KLK yang dilakukan oleh 8 orang mahasiswa dari Prodi Agroteknologi ini mengangkat tema budidaya dengan bahan asal umbi dan true shallot seed (TSS) dengan mengedepan perlakuan untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan OPT akibat perubahan cuaca.  Mahasiswa telah melakukan analisis laboratorium yang berhasil menemukan cendawan aktif yang memacu penyebaran penyakit molar.  Dari hasil uji aplikasi dengan hormon terhadap bawang merah mengindikasikan peningkatan ukuran umbi bawang merah.  Kegiatan KLK ini bukan hanya memberikan keuntungan bagi akdemisi UBB tapi juga petani.  Petani selaku mitra mengungkapkan dengan adanya kegiatan KLK ini mitra juga mendapatkan ilmu dari hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa. Perlakuan yang mengindikasikan perubahan positif pada tanaman dapat diterapkan oleh petani dalam budidaya. Petani mitra merngharapkan kegiatan ini terus berjalan dan jumlah mahasiswa ditingkatkan agar hasil yang didapatkan semakin nyata.

Menurut Prof. Dr. Eries Dyah Mustikarini, SP, M.Si selaku ketua pusat penelitian UBB, pengembangan bawang merah di Babel ini harus terus ditingkatkan. Pengujian terhadap varietas bawang merah yang adaptif di lahan ultisol Bangka menjadi pondasi awal untuk pengembangan lebih lanjut, dengan adanya riset tentang input produksi dan pengelolaan OPT secara terpadu dapat meningkatkan produksi bawang merah yang berorientasi pada peningkatan pendapatan petani lokal.

Bagikan Ke:

Populer